Jumat, 02 Desember 2011

Gobekli Tepe, Kuil Tertua?

Hampir 12.000 tahun lalu di tempat yang sekarang Turki dekat perbatasan Suriah, manusia sedang membangun karya monumental batu yang membingungkan kita hari ini. Meskipun kemudian bangunan ini sengaja dikubur oleh mereka mungkin dengan alasan keselamatan. Kini setelah ditemukan dan digali kembali, Beberapa ukiran paling kuno di dunia religius dan yang paling bersih terukir dan terawat baik muncul kembali.



 Situs yang dikenal sebagai Göbekli Tepe ini samar-samar mengingatkan kita pada Stonehenge, cuma Göbekli Tepe dibangun jauh lebih awal dan tidak terbuat dari potongan batu kasar melainkan dari tugu batu kapur yang dipahat rapi dan dihiasi relief-rendah aneka hewan—kijang, ular, rubah, kalajengking, dan babi liar. Kompleks ini dibangun sekitar 11.600 tahun lalu, tujuh alaf sebelum Piramida Besar di Giza. Di sini terdapat kuil tertua di dunia. Göbekli Tepe memang merupakan bangunan monumental tertua yang diketahui—struktur pertama yang dibangun manusia yang lebih besar dan lebih rumit daripada gubuk. Saat tugu ini didirikan, sepanjang pengetahuan kita, belum ada yang setara dengannya di dunia.


Saat Göbekli Tepe dibangun, sebagian besar manusia mungkin hidup dalam kelompok nomaden kecil yang bertahan hidup dengan meramu tanaman dan berburu binatang liar. Pembangunan situs ini tentunya mengharuskan orang banyak berkumpul di satu tempat melebihi yang pernah terjadi sebelumnya. Hebatnya, para pembangun kuil mampu memotong, membentuk, dan mengangkut batu seberat 16 ton sejauh ratusan meter meskipun belum mengenal roda atau hewan beban. Para peziarah zaman dahulu yang datang ke Göbekli Tepe hidup di dunia tanpa tulisan, logam, atau gerabah. Bagi orang yang datang ke kuil dari bawah, tugu ini pasti menjulang laksana raksasa kaku, binatang yang terpahat di batu seakan bergetar dalam cahaya api—utusan dunia spiritual yang mungkin mulai terbesit dalam pikiran manusia.


Para ahli arkeologi masih menggali Göbekli Tepe dan memperdebatkan arti pentingnya. Namun, satu hal yang mereka tahu pasti adalah situs tersebut merupakan yang terpenting dalam rangkaian temuan tak terduga, yang juga menjungkirbalikkan teori sebelumnya tentang masa lalu spesies kita. Baru 20 tahun lalu sebagian besar peneliti yakin bahwa mereka mengetahui waktu, tempat, serta urutan kasar Revolusi Neolitik—transisi penting yang melahirkan pertanian, mengubah Homo sapiens dari kelompok pemburu-peramu yang tersebar menjadi desa pertanian, dan kemudian menjadi masyarakat berteknologi canggih dengan menara dan kuil besar, serta raja yang mengerahkan tenaga rakyatnya, dan mencatat prestasinya dalam bentuk tulisan. Namun, dalam beberapa tahun terakhir beberapa penemuan baru, terutama Göbekli Tepe, mulai memaksa para ahli arkeologi untuk mempertimbangkan kembali pandangan tersebut..


Survei geomagnetik pada 2003 mengungkapkan setidaknya ada 20 lingkaran bertumpuk-tumpuk, tak teratur, di bawah tanah. Tugu-tugu tersebut berukuran besar—yang tertinggi 5,4 meter dengan berat 16 ton. Di permukaan tugu terdapat relief-rendah berbagai macam hewan. Beberapa relief terpahat halus dan simbolis se­perti karya seni Bizantium. Di bagian lain bukit itu, berserakan peralatan batu kuno yang terbanyak yang pernah dilihat para ahli arkeologi —gudang Neolitik yang berisi pisau, kapak, serta mata panah dan tombak.


Lingkaran-lingkaran tersebut dibuat dengan cara yang sama. Semuanya tersusun dari tugu batu kapur berbentuk seperti paku atau huruf “T” raksasa. Tugu yang mirip bilah ini lebarnya bisa lima kali tebalnya. Tugu ini terpisah sedepa atau lebih, dihubungkan oleh dinding batu rendah.




Salah satu Artikel National Geographic menyebutkan "Lahirnya Agama" dan mengusulkan teori bahwa dorongan untuk menyembah menyebabkan orang untuk datang bersama-sama dan membentuk peradaban. Namun menurut pendapat penulis, seharusnya penemuan seperti ini haruslah membuat kita berpikir kembali betapa sedikitnya pengetahuan kita tentang manusia purba dan melihat secara skeptis pada teori-teori saat ini, bukan hanya kembali menyesuaikan teori yang sama tanpa banyak bukti atau alasan. Penemuan ini hanya kuil tertua yang pernah ditemukan. Dan tidak ada satupun artefaknya yang membuktikan tentang lahirnya agama. Semuanya hanya spekulasi yang terlalu dini. Bagaimana agama animisme bisa terkait dengan asal-usul peradaban?. Dan penemuan Kuil Gobekli Tepe ini, bagi penulis hanyalah menunjukkan betapa kita (sejarawan) tidak tahu kapan dan dimana dan bagaimana lahirnya kebudayaan dan agama. Meskipun bagi semua muslim, percaya bahwa kuil tertua didunia adalah Ka'bah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar