Selasa, 08 November 2011

Mengapa bangsa Indonesia kalah kreatif dari negara-negara maju

Sebenarnya ini adalah ringkasan dari buku Prof. Ng Aik Kwang dari University of Queensland yang berjudul "Why Asians Are Less Creative Than Westerners"(Mengapa bangsa Asia kalah kreatif dari negara-negara barat), tapi berhubung saya tinggal di Indonesia dan lebih mengenal Indonesia, maka saya mengganti judulnya, karena saya merasa bahwa bangsa Indonesia memiliki ciri-ciri yang paling mirip seperti yang tertulis dalam buku itu.

1. Bagi kebanyakan orang Indonesia, ukuran sukses dalam hidup adalah banyaknya materi yang dimiliki (rumah, mobil, uang dan harta lain). Passion (rasa cinta terhadap sesuatu) kurang dihargai. Akibatnya, bidang kreatifitas kalah populer oleh profesi dokter, pengacara, dan sejenisnya yang dianggap bisa lebih cepat menjadikan seorang untuk memiliki banyak kekayaan.

2. Bagi orang Indonesia, banyaknya kekayaan yang dimiliki lebih dihargai daripada cara memperoleh kekayaan tersebut. Tidak heran bila lebih banyak orang menyukai ceritera, novel, sinetron atau film yang bertema orang miskin jadi kaya mendadak karena beruntung menemukan harta karun, atau dijadikan istri oleh pangeran dan sejenis itu. Tidak heran pula bila perilaku korupsi pun ditolerir/diterima sebagai sesuatu yang wajar.

3. Bagi orang Indonesia, pendidikan identik dengan hafalan berbasis "kunci jawaban", bukan pada pengertian. Ujian Nasional, tes masuk PT, dll, semua berbasis hafalan. Sampai tingkat sarjana, mahasiswa diharuskan hafal rumus-rumus ilmu pasti dan ilmu hitung lainnya, bukan diarahkan untuk memahami kapan dan bagaimana menggunakan rumus rumus tersebut.

4. Karena berbasis hafalan, murid-murid di sekolah di Indonesia dijejali sebanyak mungkin pelajaran. Mereka dididik menjadi "Jack of all trades, but master of none" (tahu sedikit-sedikit tentang banyak hal tapi tidak menguasai apapun).

5. Karena berbasis hafalan, banyak pelajar Indonesia bisa jadi juara dalam Olympiade Fisika dan Matematika. Tapi hampir tidak pernah ada orang Indonesia yang memenangkan Nobel atau hadiah internasional lainnya yang berbasis inovasi dan kreativitas.

6. Orang Indonesia takut salah dan takut kalah. Akibatnya, sifat eksploratif sebagai upaya memenuhi rasa penasaran dan keberanian untuk mengambil resiko kurang dihargai.

7. Bagi kebanyakan bangsa Indonesia, bertanya artinya bodoh, makanya rasa penasaran tidak mendapat tempat dalam proses pendidikan di sekolah.

8. Karena takut salah dan takut dianggap bodoh, di sekolah atau dalam seminar atau workshop, peserta jarang mau bertanya tetapi setelah sesi berakhir, peserta akan mengerumuni guru/narasumber untuk meminta penjelasan tambahan.


Dalam bukunya, Prof.Ng Aik Kwang menawarkan beberapa solusi sebagai berikut:
1. Hargai proses. Hargailah orang karena pengabdiannya, bukan karena kekayaannya. Percuma bangga naik haji atau membangun mesjid atau pesantren, tapi duitnya dari hasil korupsi

2. Hentikan pendidikan berbasis kunci jawaban. Biarkan murid memahami bidang yang paling disukainya.

3. Jangan jejali murid dengan banyak hafalan, apalagi matematika. Untuk apa diciptakan kalkulator kalau jawaban untuk X x Y harus dihapalkan? Biarkan murid memilih sedikit mata pelajaran tapi benar-benar dikuasainya.

4. Biarkan anak memilih profesi berdasarkan passion (rasa cinta)-nya pada bidang itu, bukan memaksanya mengambil jurusan atau profesi tertentu yang lebih cepat menghasilkan uang.

5. Dasar kreativitas adalah rasa penasaran berani ambil resiko. Ayo bertanya!

6. Guru adalah fasilitator, bukan dewa yang harus tahu segalanya. Mari akui dengan bangga kalau kita tidak tahu!

7. Passion manusia adalah anugerah Tuhan. Sebagai orang tua, kita bertanggungjawab untuk mengarahkan anak kita untuk menemukan passionnya dan mensupportnya.

Rabu, 26 Oktober 2011

“水至清则无鱼”(shui zhi qing ze wu yu)-Water that is too clear has no fish.

Seorang pria dapat disebut bersih, jika dia bersikap jujur dan berlapang dada terhadap keluarga, terhadap sahabat dan terhadap teman sejawat. dapat mengemban tanggung jawab yang seharusnya dia pikul, tidak memiliki sifat-sifat yang tidak baik seperti, selalu iri terhadap orang lain, berkhianat, mengelabui orang, berbicara manis untuk mencelakakan orang, berbicara tidak sesuai dengan norma nurani, senang menjilat dengan bualan, dan sebagainya.
Pria yang baik, dalam keluarga ia adalah seorang suami, seorang ayah yang baik.dikantor, dia merupakan bawahan, atasan maupun teman sejawat yang baik. diantara teman, dia merupakan seorang teman yang dapat dipercaya, sebagai sahabat sejati yang senantiasa siap mengulurkan tangan membantu teman yang dalam kesulitan.
Pria semacam ini acapkali bukanlah seorang tokoh terkemuka dalam masyarakat, juga bukan seorang pedagang yang kaya raya, juga bukan seorang pejabat tinggi atau tokoh penting.
Kemungkinan dia adalah seorang pria dengan ekonomi yang pas-pasan, dia mungkin adalah salah satu diantara orang-orang yang harus mengayuh sepedanya untuk  pergi ke kantor, dia mungkin juga adalah seorang ayah yang senantiasa mengantar dan menjemput anaknya pergi ke sekolah dalam keadaan cuaca yang bagaimanapun juga.
Jika pria ini berjalan ke dalam kerumunan masyarakat, dia akan segera lenyap dari pandangan anda. akan tetapi keluarga atau masyarakat yang memiliki pria semacam ini, akan benar-benar mantap dan damai.
Seorang perempuan dapat dikatakan bersih, bukan dengan merujuk pada pakaian yang dikenakan, melainkan merujuk pada moral dan karakternya, mematuhi norma-norma sebagai seorang perempuan dan tidak membuat ulah yang menyusahkan diri sendiri.
Yang dimaksud dengan mematuhi norma-norma sebagai seorang perempuan, bukan patuh seperti di zaman kuno (belenggu kebatinan yang dikenakan pada perempuan di masyarakat feodal), tetapi yang dimaksud adalah tidak memanfaatkan kecantikannya hanya demi kepentingan dan keuntungan pribadi.
Seorang perempuan yang rupawan tidak akan mudah untuk melakukan hal ini. bagaimanapun juga kecantikan merupakan sumber daya alami dari pembawaan sejak lahir, lagi pula godaan yang berada di sekitarnya semakin lama akan semakin banyak.
Sebagai contoh, para artis perempuan yang mengandalkan paras kecantikan satu persatu menjadi tenar dalam semalam. teman sejawat yang berkemampuan tidak seberapa tetapi  karena berparas cantik telah dimanjakan oleh pimpinan dan seringkali segala keinginannya dapat dipenuhi oleh atasan, sehingga seringkali membuat teman-teman sejawat lain menjadi iri hati.
Walaupun perangai  perempuan semacam ini masih beberapa kali lipat lebih baik dibandingkan dengan pejabat perempuan yang menggunakan kekuasaannya untuk melakukan korupsi uang puluhan ribu juta, tetapi mereka juga masih terlalu jauh untuk dapat disebut sebagai perempuan yang bersih.
Perempuan yang disebut bersih di dalam hati mereka juga memiliki dambaan, tetapi mereka tidak memilih jalan pintas untuk mencapai tujuannya itu, tidak akan mencoba mengambil hati penguasa, juga tidak mau melakukan hal-hal yang melanggar norma moral dalam hatinya.
Kemana pun juga ia pergi, sinar pandangannya akan menatap ramah ke setiap orang yang ia temui, suara tawa mereka juga penuh dengan keyakinan diri yang timbul dari dalam lubuk hati. dikemudian hari, tidak akan ada ganjalan hati ataupun penyesalan apapun akan apa yang telah diperbuat. hidup sehari-hari mereka bagaikan air yang tenang, jernih hingga dapat terlihat sampai ke dasarnya.
Tidak menyusahkan diri sendiri juga merupakan semacam bersih.wanita semacam ini, dia selamanya tidak membicarakan kekurangan orang lain, dia menyelesaikan tugasnya sendiri, juga melewatkan kehidupannya sendiri.walaupun dia hanya sebagai seorang cleaning service, juga akan menjadi kegembiraannya jika dia bisa membuat kamar kecil menjadi bersih tanpa sedikit debu, dia bukan tipe wanita yang senang menebarkan isu dan menjelekkan orang lain.
Sesungguhnya seorang yang dikatakan bersih, sama sekali tidak ada hubungannya dengan statusnya di dalam masyarakat, tidak ada hubungannya dengan harta yang dia miliki, juga tidak ada hubungan dengan pendidikannya. Pejabat dan rakyat biasa, si kaya dan si miskin, professor dan mereka yang hanya lulus SD, mereka semua bisa menjadi orang bersih.
Di depan pintu Xiangshan di Beijing, ada sepasang suami-istri yang buta, mereka berdiri di sana sepanjang tahun bernyanyi untuk meminta sedekah kepada para pengunjung.setiap hari mereka selalu berpakaian bersih walaupun sederhana, mereka bergiliran menyanyikan lagu-lagu tradisional, suara mereka tidak keras, tetapi setiap lagu selalu mereka nyanyikan penuh perasaan, mulai awal hingga akhir.
Yang mendapatkan giliran bernyanyi, dia pasti bernyanyi sambil berdiri, yang tidak bernyanyi dia duduk di samping kotak sedekah, setiap kali ada orang yang meletakkan uang satu hingga dua Yuan kedalam kotak besi, dia selalu mengucapkan, “Terima kasih”, semoga orang yang baik mendapatkan berkah keselamatan seumur hidupnya!” suaranya rendah tetapi setiap kali selalu mengucapkan sama seperti itu. uang sedekah yang mereka peroleh selalu lebih banyak dari pada yang didapat oleh peminta lainnya.
Jika mengatakan seorang pejabat ini bersih, adalah mengatakan bahwa pejabat tersebut jujur dan tulus (tidak korupsi), melakukan segala hal dengan adil, prinsip dipertahankan dengan teguh dan tidak semena-mena menggunakan kekuasaan, tidak mau bersangkutan dengan segala jenis hal yang berhubungan dengan korupsi, kolusi dan nepotisme. Pejabat semacam ini mungkin posisi jabatannya tidak tinggi, mereka juga jarang sekali menduduki posisi yang selalu ingin disanjung dan dijilat orang. tetapi ketika dia turun dari jabatan, orang-orang yang berada di sekitarnya akan memberikannya predikat: orang yang baik.
Ada seorang pejabat yang jabatannya tidak seberapa tinggi, dia selalu menolak segala bentuk sumbangan yang ingin diberikan kepadanya secara halus. Seorang teman yang bermaksud baik mengingatkannya, “Air yang jernih tidak ada ikannya, orang yang bersih tidak ada temannya.”
Akan tetapi pejabat ini tetap berpendirian seperti semula, ia hanya menjawab, “Yang saya inginkan adalah kenyenyakan dalam tidur.”
Ini adalah sebuah kisah nyata, dan sekarang pejabat itu sudah pensiun selama puluhan tahun. Saya bertanya pada diri sendiri, seandainya pejabat itu menjadi pejabat di jaman sekarang ini, apakah dia masih bisa mempertahankan prinsipnya itu..?,dalam satu tempat atau satu lingkungan, jika terdapat lebih banyak orang yang bersih, maka tempat atau lingkungan tersebut bisa menjadi lebih cerah dan menyejukkan.
Karena semua orang melaksanakan tugas sesuai dengan tanggung jawab masing-masing, menurutkan aturan dan prosedur yang berlaku, semua dilakukan secara terbuka dan jujur, mana yang harus dilakukan maka pasti dilaksanakan, dengan sendirinya hati manusia menjadi baik, masyarakat akan menjadi tenang dan aman.
Menjadi orang yang bersih, melaksanakan pekerjaan menurutkan aturan yang ada, merupakan batasan yang paling mendasar. Setelah mempunyai batasan yang mendasar ini, barulah bisa memunculkan sifat sejati manusia yang lebih banyak, dan baru bisa menjauhkan diri dari ke tidak praktisan yang lebih banyak.
Untuk mempertahankan batasan yang paling mendasar ini, memang tidak mudah, namun asal memiliki kemauan yang kuat, maka saya rasa juga tidak akan sesulit apa yang kita bayangkan.
-The Epoch Times/lin

Kamis, 06 Oktober 2011

4 hal utama yang tidak boleh d hancurkan

ada 4 hal yg tdak boleh d hncurkan, krena jika itu hancur, itu tdak akan menimbulkan banyak suara atau keributan sperti piring yg pecah atau ban mobil yg pecah, atau hancurnya jambangan bunga. Jika itu pecah, itu tdak akan menimbulkan suara, tetapi mengakibatkan penderitaan dan sakit yang amat dalam. 4 hal itu adalah: kepercayaan, hubungan persahabatan, janji, hati.

KEPERCAYAAN
kpercayaan orang terhadap anda merupakan harta tak kelihatan, begitu bernilai. Jika orang mempercayai anda atau memberimu kepercayaan itu berarti ia menghargaimu dan memandang anda sebagai orang bermartabat, menganggapmu mampu untuk melakukan apa yg d harapkan sesuai dengan harapannya. Maka jagalah, jangan sampai kepercayaan itu hilang gara-gara anda tidak melakukan apa yg di harapkan, atau melaksanakan apa yg diminta.

HUBUNGAN PERSAHABATAN
hubungan persahabatan tak hanya di mengerti sebagai hubungan antara dua orang yg bershabat. Itu juga mencakup hubungan yang baik dengan keluarga, rekan kerja, tetangga dan mereka yang ada di sekitar kita. Hubungan yang baik dengan orang lain perlu di jaga karena itu harta yang tak ternilai. Hubungan yang baik membuat anda di terima dan di hargai, serta di pandang sebagai bagian dari hidup mereka. Jika hubungan itu hancur, maka semuanya akan hilang dan membuat dirimu terasing dan kering ditengah lingkunganmu.

JANJI
janji haruslah d tepati. Karena pada saat anda berjanji melakukan atau memberi sesuatu maka itu menciptakan harapan dalam diri orang kepada siapa anda berjanji. Harapan itu akan tetap ada sampai janji itu di tepati. Jika janji tidak di penuhi, harapan akan berubah menjadi kejengkelan bahkan kemarahan. Maka tepatilah janji yang anda buat. Dan jika tidak mampu jangan mengumbar janji.

HATI
hati seseorang adalah bagian yang amat peka dan rawan, karena hal itu menunjuk pada inti pribadi seseorang. Jika kita membesarkan hati seseorang, ia akan hidup dan bertahan. Jika kita menyakiti hati seseorang, maka ia akan mengalami kepedihan yang amat dalam. Jika anda tidak mau di sakiti, janganlah pernah menyakiti hati orang lain. Bersikaplah bijaksana dan jagalah perasaan orang jangan sampai kita menciptakan luka yang amat dalam.

Minggu, 25 September 2011

7 Hal Yang Bisa Kita Lakukan, Namun Tidak Mau Dilakukan!

Bila hal-hal yang kecil kita sepelekan untuk dilakukan , bukankah sama saja itu menyepelekan diri sendiri?
Dalam hidup sehari-hari entah dirumah sendiri maupun rumah orang lain , ditempat umum , dirumah sakit , ataupun ditempat ibadah , begitu banyak hal-hal kecil yang seharusnya bisa kita lakukan, tetapi kita lalaikan begitu saja. Padahal bila bisa dilakukan , sungguh membawa manfaat yang besar !
Tetapi karena lalaikan, tanpa sadar begitu banyak kerugian yang terjadi .
Apakah anda termasuk salah satu pelakunya ?
Ataukah justru saya sendiri?!
Walaupun sudah seringkali diingatkan , namun tetap masih sulit dilakukan . Apakah ini berhubungan dengan kebiasaan atau kemalasan ? Bila kebiasaan dan kemalasan, bukankah tetap bisa dirubah juga .
Atau karena terlalu disepelekan karena dianggap hal kecil?
Apakah hal-hal kecil itu ?
Mari kita simak satu persatu :
1.
Kalau masuk kamar kecil , bila menemukan keadaannya gelap, pasti akan segera menekan sakral on - off untuk menyalahkan lampunya . Setelah buang hajatnya , lalu seenaknya meninggalkan kamar kecil dalam keadaan lampu terus menyalahkan tanpa perlu merasa bersalah .
Kalau menyalahkan kenapa bisa ingat, sedang untuk mematikan kenapa bisa lupa ?
Masalahnya ada dimana ?
Bingung !
2.
Ketika mengambil sesuatu barang atau alat untuk digunakan bisa dilakukan , tetapi setelah digunakan mengapa bisa jadi lupa untuk meletakan kembali pada tempatnya ? Sehingga kemudian orang lain yang membutuhkan kelabakan mencarinya .
Padahal kalau dipikiran , apa susahnya meletakan kembali ketempatnya semua !
3.
Ketika makan sesuatu yang ada kulitnya atau bungkus , setelah isinya ditelan , dengan mudah kulit atau bungkusnya tersebut dibuang kemana-mana . Aneh kan, diri sendiri saja tidak mau telan , mengapa dibuang begitu saja , padahal tak jarang tong sampah didepannya ?
Tak heran bila bisa menemukan sampah dimana-mana . Termasuk dirumah ibadah , padahal kebersihan adalah sebagian dari iman .
Lalu apakah yang suka buang sampah sembarangan kehilangan iman?
Pasti tidak mau dikatakan demikian , bukan?!
4.
Bila butuh barang , tetapi tidak ada , lalu ingat untuk pinjam ke teman atau tetangga , kemudian digunakan sepuasnya . Selesai digunakan , penyakit lupanya muncul untuk mengembalikan . Apakah bukan mau enak sendiri ? Karena ketika yang punya barang memerlukan , harus yang meminta kembali !
Hanya menutupinya dengan satu kata saja, lupa!
5.
Bila makan atau minum , tak lupa berdoa sebagai wujud bersyukur . Anehnya bila tahu bersyukur , mengapa ketika makan atau minum, seringkali makanan dan minuman tidak dihabiskan ?
Disia-siakan jadi sampah dan dibuang begitu saja ! Aneh bin nyata , bukan?!
Bersyukur kok menyia-nyiakan rejeki yang ada ?!
6.
Untuk hal yang sepele atau yang sia-sia , tanpa malu-malu merogoh kocek dalam-dalam dengan bangganya , tetapi tatkala ada yang membutuhkan uluran tangan tidak malu membuang muka .
Mengapa tak rela merogoh koceknya yang masih penuh ? Bukankah ini tidak ada hubungan dengan mampu atau tidak mampu ?
7.
Senyuman , setiap orang pasti memilikinya , namun entah mengapa begitu pelit untuk diberikan kepada orang lain sebagai wujud persahabatan . Senyuman tidak membutuhkan biaya , tak ada ruginya bila diberikan kepada orang lain .
Lalu mengapa harus disimpan sampai membuat wajah menjadi mengkerut ?
Masih adakah hal - hal kecil yang bisa ditambahkan ?
Semoga kita tidak mengecilkan hal-hal yang kecil , sehingga menjadikan diri kita seperti orang kecil selamanya !